Faidhan; Pangeran Kedua

Posted: 15 Mei 2017 in Uncategorized

Sudah hampir lima setengah bulan umur Faidhan per Mei 2017 ini. Alhamdulillah ia aktif bergerak. Sudah mahir membalik-balikkan badan. Kecenderungannya balik ke arah kanan. Lalu mengangkat kaki sedikit demi sedikit. Atau menaikkan tumpuan tangan ketika menelungkup.
Ia sepertinya suka mendengar cerita saya. Setiap pulang kerja dan sampai di rumah, saya akan bercerita padanya tentang pekerjaan, tentang abangnya (Faiz) atau hal-hal yang menarik. Ia tersenyum mendengar cerita saya. Kadang tawanya muncul. 
Di lain waktu ia saya ajak membaca buku bang Faiz. Tentang kisah nabi, atau belajar membaca juz amma. Ia senang bila melihat gambar mobil-mobilan, pohon dan binatang yang biasa ada di buku untuk anak TK. 
Bila sudah bosan ia akan merengek. Digendong adalah penawarnya. Lalu ia saya ajak keluar rumah. Kakinya lincah bergerak sambil digendong. Seperti sudah akan mencoba berlari mengejar kawan-kawan Faiz. Ia suka banyak kawan. Kadang kawan Faiz main ke rumah. Ia pun ingin bermain dengan mereka.

TdS dan Jalan yang Semakin Rusak

Posted: 29 Maret 2017 in opini

Apakah tahun 2017 ini Tour de Singkarak (TdS) akan kembali digelar? Wallahu’alam. Sampai pertengahan Maret 2017 ini belum sekalipun saya lihat pemberitaan di media cetak terbitan Sumatera Barat tentang rencana digelarnya TdS. Atau mungkin saya yang luput membaca berita rencana balap sepeda bergengsi di Sumatera Barat tersebut.

Bagi saya (dan mungkin juga orang lain), TdS memiliki dua dimensi yang berbeda. Tetapi tidak bisa dipisahkan. Seperti dua sisi mata uang. Ada hal positif yang dirasakan dari digelarnya TdS. Ada pula sisi negatifnya.

Beberapa tahun belakangan ini sejumlah ruas jalan rusak parah. Lubang kecil, menengah, dan besar menganga di tepi jalan. Tidak sedikit pula rusaknya di tengah jalan. Ketika sedang asyik berkendara di jalan mulus, tiba-tiba saja dikejutkan oleh lubang berukuran sedang di tengah jalan. Dari jauh tidak terlihat. Setelah dekat baru tampak jelas.

Bila musim hujan datang, lubang-lubang itu akan tergenang air. Menjadi ratalah genangan air itu dengan jalan. Tidak bisa disangka ban kendaraan akan terperosok ke lubang. Disangka jalan mulus saja, ternyata air yang menimbun jalan berlubang. Gara-gara jalan yang rusak parah tersebut, bisa saja mengundang korban nyawa, materi, waktu, hingga jiwa.

“Untung ada TdS”. Apa pula untungnya? Coba kita amati. Beberapa bulan menjelang TdS berlangsung, jalan yang menjadi rute atau perlintasan etape TdS akan diperbaiki. Ruas jalan yang tadinya berlubang ditambal. Bila memungkinkan tambalannya dihaluskan dengan melapisi tambalan pertama dengan lapisan kedua. Halus dari ujung jalan yang satu ke ujung jalan yang lain.

Saya (dan masyarakat) senang dengan jalan yang mulus. Berkendara tidak terlalu melelahkan. Tidak banyak ganti perslening gigi. Jarang menginjak rem. Waktu tempuh ke tujuan menjadi lebih singkat. Jarang pula kemacetan terjadi karena harus ekstra hati-hati menghindari lubang jalan. Tapi satu yang kemungkinan besar terjadi; perilaku berkendara masyarakat kita yang ugal-ugalan. Lihai seperti pembalap yang sering terlihat di tivi.

Tidak semua yang ugal-ugalan. Masih ada pula yang tertib berlalu lintas. Berhati-hati di jalan raya, menggunakan helm atau sabuk pengaman. Itulah masyarakat yang sadar tertib berlalu lintas. Sadar akan keamanan dan keselamatan diri dan keluarga. Kadang sudah tertib pun masih ada juga yang tertabrak dari belakang. Atau tidak sengaja menabrak pengendara lain. Sudah berusaha keras menghindari hal-hal yang membahayakan keselamatan, namun tetap juga terjadi. Itu yang dinamakan takdir.

Bila tak ada TdS? Entahlah. Sejak berakhirnya helat TdS 2016 jalanan kembali rusak. Rusaknya pelan-pelan. Saya sering berkendara dari Painan, Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, dan Batusangkar. Itu rute yang biasanya setiap pekan atau setiap bulan saya lalui. Ketika melewati rute tersebut ada saja kemajuan. Maksudnya, kemajuan dari sejumlah ruas jalan yang semakin rusak parah. Pengalaman saya saat ini, yang paling parah saat ini jalan Padang-Painan.

Entah kapan akan diperbaiki jalan-jalan yang rusak tersebut. Sependek akal saya sebagai warga, hanya dugaan yang bisa dikeluarkan. Mungkin anggaran belum turun, sedang proses pengadaan, atau kendala teknis lainnya. Bila boleh saya mengusulkan kepada pengambil kebijakan, kalau bisa jangan asal ditambal saja jalan yang berlubang itu.

Maksudnya beberapa bulan setelah ditambal, lubang di tempat yang sama kembali menganga. Kualitas aspal dan material memuluskan jalan raya jika memungkinkan yang bisa bertahan bertahun-tahun. Tahan dengan muatan kendaraan hingga puluhan atau ratusan ton. Sehingga tidak setiap tahun jalan yang itu ke itu saja yang dikerjakan.

Rusaknya jalan bisa banyak faktor pendukungnya. Muatan kendaraan yang melebihi batas yang ditentukan, tetapi kurang ada tindakan tegas pihak terkait. Tanah yang labil sehingga jalan yang baru diaspal sudah retak dan rusak.

Ada pula yang menganggap rugi ada TdS. Kenapa rugi? Satu, dua, tiga jam jalanan ditutup hanya untuk melihat para pebalap sepeda melintasi rute tersebut. Tidak sampai dua menit bisa menyaksikan pebalap-pebalap tersebut. Selama rute jalan raya yang akan dilalui berapa terhambatnya kepentingan masyarakat untuk berbagai keperluan?

Dari ota lapau saya bersama kawan-kawan, secara jangka menengah dan panjang perlu dibuat terobosan baru penyelenggaraan TdS. Konsepnya dengan membangun arena balapan yang permanen di setiap kabupaten/kota yang dilalui TdS. Arena balapan itu bisa multifungsi. Bisa juga dimanfaatkan untuk arena balapan lain, seperti balap motor.

Sementara konsep TdS dengan mempromosikan wisata daerah/kabupaten/kota tetap bisa dilakukan secara sejalan. Setelah balapan di suatu kabupaten/kota, peserta bisa menikmati keindahan alam daerah setempat. Ditambah dengan jumpa pers, jumpa fans hingga foto bersama antara pebalap dengan masyarakat. Akan semakin mendekatkan masyarakat luas dengan para pebalap.

Dengan dibangunnya sirkuit balap permanen paling tidak akan ada pemasukan dari tiket dan sponsor. Masyarakat juga bisa berjualan di bagian sirkuit. Ekonomi masyarakat jelas terbantu.

Anggaran membangun sirkuit sudah pasti banyak. Perlu juga menjadi kajian lebih lanjut oleh para stakeholder dan pengambil kebijakan, agar TdS setiap tahun semakin menyuguhkan tontonan berkualitas. Seperti halnya olahraga lain seperti sepakbola.

Soal jalan yang berlubang? Diperbaiki jugalah. Kalau bisa dengan kualitas yang lebih baik. Bisa tidak berlubang dan tidak rusak beberapa tahun.(*)

Inilah untuk pertama kalinya sejak saya wisuda di Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas, saya menginjakkan kaki kembali disana. Sudah hampir tujuh tahun berlalu. Sudah sangat luar biasa perubahannya. Ilmu Administrasi Negara bukan lagi program studi. Ia sudah naik kelas menjadi jurusan. Akreditasinya B. Luar biasa. Hampir 12 tahun sejak program studi tersebut didirikan.

Saya adalah satu dari 40 mahasiswa yang merupakan angkatan pertama di tahun 2005. Program studi Ilmu Administrasi Negara efektif dimulai pada semester II (genap) tahun ajaran 2005/2006. Di semester I (ganjil) saya dan teman-teman belajar di kelas Ilmu Politik, jurusan yang sebelumnya saya pilih pada waktu seleksi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Mungkin pengambil kebijakan di Unand sudah menetapkan rencana strategis pembukaan program studi baru.

Menjelang semester I berakhir itulah FISIP menawarkan untuk pindah ke program studi Ilmu Administrasi Negara bagi mahasiswa angkatan 2005 yang berminat. Diprioritaskan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik. Tentu mahasiswa dari Jurusan Sosiologi dan Antropologi tetap bisa bergabung. Sepanjang berminat.

Sebagai sebuah program studi yang baru lahir, banyak ide yang digagas. Mulai dari pembentukan himpunan mahasiswa sendiri (terpisah dari Jurusan Ilmu Politik), ruang reading room, dan konsep baru Kemah Bhakti Mahasiswa (KBM). KBM tanpa perpeloncoan. Gagasan KBM tersendiri sempat ditentang oleh sejumlah senior di Jurusan Ilmu Politik. Pandangan mereka (para senior), AN masih bagian dari Jurusan Ilmu Politik.

Termasuk juga sedikit konflik karena gagasan pembentukan himpunan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HM-AN) Unand. Pada akhirnya HM-AN bisa dibentuk dan berdiri di masa awal seiring berdirinya program studi AN. Lambang HM-AN yang terdiri dari 40 kotak menggambarkan jumlah mahasiswa angkatan pertama di AN.

Itu sedikit dinamika yang berkembang di awal berdirinya program studi Ilmu Administrasi Negara dari sisi saya sebagai salah seorang mahasiswanya. Setelah 12 tahun berlalu, program studi sudah beranjak menjadi sebuah jurusan. Gedung yang cukup representatif di bagian belakang gedung FISIP Unand yang lama. Ruang baca atau reading room yang sudah khusus, ruangan dosen, ruang sidang untuk rapat internal dan ujian skripsi yang sudah nyaman.

Mahasiswa baru di Jurusan Administrasi Negara Unand harus bersyukur dengan segala fasilitas yang sudah lebih baik. Musholla yang representatif untuk menjalankan ibadah maupun tempat berdiskusi juga sudah selesai. Tinggal bagaimana civitas akademika di AN memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan semangat belajar yang lebih baik dari kami yang “lahir” di angkatan-angkatan awal.

***

“Kami mau undang lutfi untuk berkenan hadir dalam acara penilaian akreditasi oleh jurusan. Acaranya hari Selasa bos, jam 8. Mohon berkenan datang”. Begitu kabar dari dosen saya Uni Rozidateno.

Menjelang magrib, Bang Malse Yulivestra menelpon. Mengabarkan hal yang sama. Beliau berharap user atau pengguna di tempat saya bekerja juga bisa datang. Maksudnya pimpinan di kantor saya.

“Tolong discan kan surat untuk Ketua ya bang. Agar undangannya resmi”, kata saya. Bang Malse menyanggupi. Senin pagi dikirimkannya.

Selasa (7/3) pagi saya, Ketua dan Da Eri (sopir kantor) menuju Padang. Beberapa menit sebelum jam 10.00 WIB kami sampai di kampus. Terkesima saya menyaksikan perubahan di kampus. Saya menuju Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Sepi. Ruangan dosen juga kosong. Hingga di suatu ruangan yang terletak paling sudut saya lihat rapat sedang berlangsung. Mungkin saya terlambat. Saya kontak Bang Malse, nomornya tidak aktif.

Saya dan Ketua menunggu saja sesaat di lobby. Tepat di depan pintu reading room. Saya jadi ingat reading room di masa-masa awal. Meminjam satu ruangan dosen di lantai 2 gedung FISIP yang lama.

Ternyata di ruang rapat sedang berlangsung rapat internal antara dosen dengan tim Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN PT), Prof.Dr.Soesilo Zauhar, MS. Seperti ujian saja. Rapat tersebut untuk penilaian internal yang bersumber dari dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara.

Sekitar satu jam menunggu, saya, ketua dan sejumlah alumni serta mahasiswa AN diarahkan menuju ke ruang sidang dekanat lantai 2.Di dalam ruangan sudah menunggu tim asessor BAN-PT, Dr.Bambang Tri Harsanto, M.Si. Beliau memperkenalkan diri di hadapan forum. Termasuk maksud dan tujuan mengundang alumni untuk hadir dalam penilaian akreditasi jurusan.

“Kami ingin membandingan dengan penilaian eksternal dari alumni terkait mata kuliah yang dipelajari di AN dan relevansinya secara aplikatif di dunia kerja. Di tempat kerja saudara”, kata beliau menerangkan.

“Program studi dan fakultas ada rencana strategis, apakah alumni dilibatkan dalam proses tersebut?” Beliau mulai bertanya. Kami menjawab tidak dilibatkan.

Pertanyaan berlanjut ke hal yang lebih spesifik. Relevansi mata kuliah yang dipelajari dengan kebutuhan di tempat alumni bekerja. Kawan saya Handre (saat ini Plt.Kabag Humas Pemkab.Padang Pariaman) menjelaskan bahwa apa yang dipelajari saat kuliah dulu sangat membantu sekali secara aplikatif di dunia birokrasi.

Bagi saya juga demikian. Di semester 5 saya mengambil konsentrasi Kebijakan Publik. Ternyata hal tersebut juga diperlukan di tempat saya bekerja. Bahwa dalam pengambilan kebijakan tersebut harus melalui tahapan formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, evaluasi kebijakan. Sebuah keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga/institusi/organisasi pemerintah juga mengedopsi hal yang sama. Kadangkala disertai dengan semacam perdebatan di lingkungan internal untuk menghasilkan keputusan yang tepat.

Dalam konteks manajemen publik, pelayanan di bidang publik juga menjadi prioritas. Bagaimana memangkas patologi atau penyakit birokrasi sehingga masyarakat menilai birokrasi merupakan hal terpenting dalam melayani masyarakat. Itu juga saya coba terapkan di tempat saya bekerja. Apalagi saya berada di pos Pusat Pelayanan Informasi dan Dokumentasi (PPID). Sehingga prinsip kemudahan pelayanan atau pelayanan prima seperti yang dipelajari di waktu kuliah sangat membantu dalam memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat.

Kami mengusulkan agar ditambah satu mata kuliah praktek, misalnya magang di instansi pemerintah atau swasta. Namun konsepnya berbeda dengan magang anak-anak SMK yang cenderung menjadi “tukang fotocopy” surat di instansi. Konsep magang mahasiswa AN harus dipetakan untuk memperdalam keilmuan sesuai konsentrasi yang diambilnya.

Misalnya, mahasiswa AN dengan konsentrasi Kebijakan Publik. Tugasnya selama magang adalah melihat dan mengamati prose pengambilan kebijakan di instansi tersebut. Caranya dengan melibatkan mahasiswa magang dalam setiap bentuk tahapan pengambilan keputusan, seperti melalui forum-forum rapat internal maupun eksternal. Namun sifat mahasiswa magang tersebut adalah pendengar yang pasif, atau hanya menjadi pengamat, mencatat, dan melaporkan hasil pengamatan dan catatannya tersebut kepada pimpinan instansi dan menjadi bahan penilaian di kampus.

Dengan demikian, Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak dihilangkan sama sekali. KKN berguna untuk sosialisasi kemasyarakatan mahasiswa, sementara magang atau kuliah praktek berguna untuk memperdalam konsep dan pemahaman keilmuan terkait konsentrasi yang diambil oleh mahasiswa di semester akhir.

Sekitar satu jam kami dan tim asessor BAN-PT berdiskusi. Rasanya masih kurang waktu berdiskusi untuk kemajuan jurusan. Masih terlalu minim kontribusi saya untuk jurusan yang juga memiliki nilai historis tersendiri.

Semoga Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Andalas bisa meraih akreditasi A untuk Kedjajaan Bangsa.(*)

Tahun lalu (2016) saya akhirnya mengundurkan diri dari seleksi calon penerima beasiswa konsentrasi Tata Kelola Pemilu yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tahapan yang saya ikuti meliputi pendaftaran secara online. Nama saya tertera di keputusan KPU terkait hasil seleksi administrasi. Ada dua tahapan lagi sebenarnya. Pertama tahap pendaftaran di universitas yang dipilih. Kedua tahap seleksi wawancara yang dilaksanakan berdasarkan regional.

Tahap pertama tidak jadi saya lakukan. Saya menafsirkan bahwa setelah ada keputusan hasil seleksi wawancara, baru calon yang terpilih sebagai penerima beasiswa untuk mendaftar di universitas pilihan. Tafsiran saya ternyata salah. Antara tahap pertama dan kedua berjalan hampir beriringan. Artinya, bila di universitas yang dipilih sudah dibuka pendaftaran, maka harus mendaftar. Selanjutnya baru wawancara dilakukan.

Waktu itu saya juga harus memutuskan antara pertimbangan lain. Istri saya yang hampir selesai masa studi pasca sarjananya di Fakultas Psikologi di Universitas Sumatera Utara (USU). Belum ujian tesis dan seminar hasil. Jadwalnya ketika itu belum keluar. Kontrakan rumah yang mepet juga untuk segera diputuskan; diperpanjang atau tidak. Sementara seleksi wawancara beasiswa sudah di depan mata.

Mudik ke Takengon, Kabupaten Aceh Tengah sudah diagendakan. Disana keluarga besar istri saya berasal. Sejak menikah, belum sekalipun saya kesana. Sementara anak saya sudah dua kali di bawa neneknya kesana. Saya ingin sekali kesana. Cerita mertua saya, daerahnya dingin. Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter dari permukaan laut. Untuk mandi saja, airnya seumpama dingin air di ruang pembekuan kulkas.

Disanalah kopi Aceh atau kopi khas Gayo berasal. Dari yang kualitas robusta hingga arabika tersedia disana. Dari harga per gelasnya hanya ribuan rupiah hingga puluh ribuan. Kopi disana sangat terkenal di Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Menjelang mendaftar seleksi beasiswa, saya semangati senior saya di KPU Padang Panjang, Kak Ade Alifya dan Bang Weriza, ketika suatu hari singgah disana. Satu hari menjelang penutupan pendaftaran mereka masih mengontak saya. Memastikan untuk mendaftar di Universitas Andalas. Dengan segala pertimbangan, saya putuskan untuk tidak jadi mendaftar.

“Alasannya?”, tanya mereka.

“Pertimbangan yang nanti akan saya tulis di blog”.

Setelah wawancara di KPU Provinsi Sumatera Barat dilakukan oleh tim seleksi, saya masih nimbrung di grup whatsaaps beasiswa tata kelola pemilu. Hingga seorang senior memberi tahu saya untuk left secara sukarela. It’s ok. Tidak hak saya juga untuk terus bergabung disana. Toh saya tidak ikut wawancara. Sudah dipastikan tidak akan memperoleh beasiswa tata kelola pemilu tahun 2016.

Suatu ketika, telpon di hp saya berdering. Saya lihat, dari nomor tak dikenal. Dari kodenya sepertinya nomor luar Sumatera. Saya jawab. Ternyata Mas Wilis Budi. Beliau bekerja di KPU RI, di bagian Sumber Daya Manusia. Beliau menawarkan kepada saya untuk ikut wawancara susulan. Melalui video call. Saya sampaikan pertimbangan saya tadi hingga memutuskan untuk mengundurkan diri di seleksi tahun 2016.

“Insya Allah tahun depan (2017) saya coba Mas”, kata saya.

***

Tanggal 1 Maret 2017 saya lihat status facebook Mas Wilis Budi. Ada Surat Sekretaris Jenderal KPU RI Nomor 238/SJ/II/2017 tanggal 28 Februari 2017 tentang Penyesuaian Besaran Tunjangan Kinerja Bagi PNS KPU yang melaksanakan Tugas Belajar. Isinya tentang Keputusan Sekretaris Jenderal KPU RI Nomor 91/Kpts/Setjen/TAHUN 2017 tentang perubahan atas Keputusan Sekretaris Jenderal KPU RI Nomor 53/Kpts/ Setjen/TAHUN 2016 tentang petunjuk teknis pelaksanaan pemberian tunjangan kinerja pegawai di lingkungan Sekretariat Jenderal Komisi Pemilihan Umum. Tunjangan kinerjanya naik dari diberikan sebesar 50 persen menjadi 80 persen.

Ini tentu menjadi angin segar bagi pegawai sekretariat untuk mempertimbangkan kembali mengambil beasiswa tata kelola pemilu tahun 2017.

Bagaimana dengan saya? Apakah tahun ini saya akan mengikuti seleksi calon penerima beasiswa tersebut? Saya ingin sekali ikut. Tentu saya harus komunikasikan dan pertimbangkan dulu dengan istri saya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama hal ini akan kami putuskan. Dengan segala pertimbangannya. Dengan segala semangatnya. Dengan segala kemashlahatannya.(*)

Tes Kompetensi

Posted: 9 Maret 2017 in Uncategorized

Untuk mengisi jabatan tertentu, perlukah dilakukan tes kompetensi? Menurut saya perlu. Bahkan wajib. Tes kompetensi akan memperlihatkan kemampuan seseorang dalam suatu organisasi atau instansi. Kemampuan yang terdiri dari pengetahuan di bidang yang ditekuninya. Tes dilakukan secara tertulis. Bisa ditambah dengan tes wawancara. Biasanya tes wawancara dilakukan untuk mendalami pengetahuan yang dilakukan pada tes tertulis.

Memperdalam visi, kepribadian, komitmen, integritas, dan skill atau kemampuan lain yang menjadi nilai plus yang dimiliki oleh peserta tes kompetensi.

Di samping tes kompetensi tersebut, tim penilai dalam tes perlu pula mempertimbangkan pengalaman atau track record yang bersangkutan. Kadangkala seseorang berhasil dalam tes tertulis dan wawancara, tetapi ketika dalam prakteknya ia gagal. Atau bahkan sebaliknya, secara kemampuan tertulis gagal, tetapi memiliki kemampuan manajerial yang bagus. Hal terbaik tentu lebih diutamakan. Menguasai dalam kemampuan tertulis, pandai pula memanajemen bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

Kemampuan saya bagaimana? Ah, biarlah tim penilai saja yang menilai sepenuhnya. Saya dan puluhan peserta tes kompetensi sudah melakukan tes tertulis pada Hari Jumat, 9 Desember 2016. Seluruh pegawai yang memenuhi persyaratan untuk naik ke eselon IVb. Ujiannya se-Sumatera Barat. Tes wawancara baru dilaksanakan 80 hari kemudian. Di satuan kerja saya, tes wawancara dilakukan pada Senin, 27 Februari 2017.

Apa pertanyaannya? Apa jawabannya? Tentang komitmen, integritas, visioner, dan strategi bila diberikan suatu jabatan. Saya tak akan berjanji. Tidak akan mengkampanyekan  diri. Tidak seperti kampanye dengan kata-kata, “bila terpilih saya akan …..”. Tidak! Saya jawab saja seperti air yang mengalir. Sesuai dengan kemampuan saya. Perkara hasil, biarlah tim penilai yang menentukan. Apakah saya layak atau tidak.

Saya tidak akan meminta suatu jabatan. Bila menurut tim penilai layak, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Jabatan itu adalah amanah. Bertambah pula tanggung jawab. Bila menurut tim penilai tidak layak, alhamdulillaah. Saya menikmati saja pekerjaan saya saat ini. Tidak ada beban sama sekali terkait perkara lulus atau tidak. Allah SWT saja yang menentukan yang terbaik untuk saya.

Jam 12.20 WIB wawancara selesai. Saya keluar. Tim penilai berembuk di dalam. Hasilnya dikirimkan ke KPU Provinsi. Berkompetenkah saya? Wallahu’alam.

Ikhtiar 

Posted: 24 Januari 2017 in Uncategorized

Selasa (24/1/2017) ini adalah hari ke-51 kehadiran pangeran kedua kami, Faidhan Alhafiz Luthfi. Alhamdulillah ASI bundanya mencukupi gizinya setiap hari. Sesekali saja ditambah susu formula. Itu pun kalau terpaksa. 

Pada umur 21 hari di wajah Faidhan sempat ada bintik-bintik merah. Istri saya mengabarkan bahwa sudah tiga hari   muncul di wajah Faidhan. Sejak Kamis (22/12/2016). Sabtu (24/12/2016) sore, kami periksakan Faidhan ke dokter anak. Dokternya sudah senior. Sudah pensiun pula. Tapi masih buka praktek di rumah. 

Berat badan Faidhan ditimbang, tanpa selembar pakaian pun. 3 kilogram. Menurut dokter, di usia yang sudah berada di minggu ke-3 sejak kelahiran, idealnya berat badannya sudah mencapai 3,4 kilogram. Tiga kilogram hampir berada pada batas awas. 

“Kenapa ada bintik-bintik merah itu dok?”

“Bisa karena bakteri”, kata dokter.

Lalu dokter menuliskan resep obat yang harus ditebus di apotek. Obat tersebut diminumkan ke Faidhan dan harus habis dalam satu minggu. 

Sepekan kemudian ada sedikit perkembangan. Kadang hilang bintik-bintik merahnya, kadang muncul lagi. Menjelang akhir pekan, bintik-bintik merahnya tambah banyak. Kami khawatir. Dan memeriksakan Faidhan lagi ke dokter.

Awalnya kami akan mencari second opinion ke dokter anak. Ternyata hari itu tempat prakteknya tutup. Jadilah kami ke tempat praktek dokter anak semula. Setelah diperiksa, dokter juga menuliskan resep di secarik kertas dan kami tebus di apotek. Harga obat yang kedua ini lebih mahal. 

Yang paling penting Faidhan sehat selalu.

Enam hari kemudian obat yang dikonsumsi Faidhan habis. Alhamdulillaah bintik-bintik merah di kulit wajahnya mulai berkurang. Beberapa hari kemudian muncul lagi. Itu tampak setelah setiap pagi Faidhan dipanaskan dengan sinar matahari pagi sekitar jam setengah delapan setiap pagi.

Bila tidak dijemur, hampir tidak ada bintik-bintik merah. Ketika udara atau cuaca panas terik dan di dalam ruangan juga panas, bintik-bintik merah itu kadang muncul kembali.

Sepertinya biang keringat, kata istri saya.

Tidak lama. Biang keringat itu hilang sendiri. Mungkin kulit bayi masih sensitif dengan udara. Jaringan kulit bayi  sedang mengalami perkembangan. Sehingga butuh proses untuk mencapai kulit yang bisa beradaptasi dengan segala cuaca.(*)

Faiz dan Jawaban Tak Terduga

Posted: 12 Januari 2017 in Uncategorized

“Tadi di tempat ulang tahun kakak itu, ngapain aja Faiz?”

“Bingung Faiz,” jawabnya.

“Kenapa?”

“Entahlah.”

“Tadi ada acara tiup lilinnya?”

“Ada.”

“Kakak itu yang tiup lilinnya tu?”

“Gak. Lilinnya mati sendiri”.

***

“Ayah, Faiz lagi ada PR (pekerjaan rumah-red) dari guru Faiz.”

“PR apa, nak?”

“PR Matematika. Ayah buatkanlah soalnya.”

“Satu ditambah satu, berapa?”

“Sebelas.”

“Lho???”

“Ia sebelas. Ini Ayah liat angka 11 itu. Kan ada 1 ditambah lagi 1. Kan jadinya 11.”

***

Itulah dua penggalan percakapan saya, istri saya dan anak pertama kami, Faiz. Minggu (8/1) Faiz diundang menghadiri ulang tahun kawannya. Beberapa rumah dari rumah kami. Acaranya jam 2 siang. Setengah jam sebelum acara, Faiz sudah rapi. Tak sabar ia ke tempat kawannya itu. Lebih tepat dipanggil kakak. Karena kakak yang ulang tahun itu umurnya sudah 9 tahun. Faiz baru 4 tahun 7 bulan.

Faiz senang bermain. Sama seperti anak-anak lain. Dunianya memang dunia bermain. Kadang sampai lupa waktu. Lupa untuk mandi, lupa makan, lupa untuk pulang. Asyik saja bermain. Kami tetap harus menjaganya. Menjaga agar ia tidak terlalu lelah bermain. Menjaga dan mengingatkannya agar tidak bermain yang berat-berat dulu. Karena dua bulan yang lalu Faiz operasi hernia.

Sesekali kawannya datang ke rumah. Bermain. Koleksi mainan Faiz sudah dua karton. Meski kebanyakan sudah rusak dengan berbagai kondisi; rusak ringan, sedang, dan berat. Toh, ia masih asyik dengan permainannya yang rusak itu. Di hari lain Faiz bermain di rumah kawannya. Masih dekat-dekat rumah. Senang sekali ia banyak kawan. Bila kawannya tidak ada, suntuk juga.

Jawaban-jawaban Faiz kadang tidak terduga. Seperti yang saya tulis di awal. Setelahnya kami tertawa bersama. Lucu juga jawabannya. Ia memang bisa membuat suasana menjadi lucu dan gembira.(*)