Semangat Melintas di Tahun Emas

Posted: 29 September 2017 in Uncategorized

​foto: robbyrotanayulian dari instagram @fans.antarlintassumatera

Tulisan ini pada awalnya saya rencanakan ditulis setahun yang lalu. Tepat pada peringatan lima puluh tahun usia PT. Antar Lintas Sumatera (ALS), perusahaan oto bus asal Mandahiling Natal, Provinsi Sumatera Utara. Tetapi karena berbagai alasan baru bisa saya tulis saat ini. Ketika usianya sudah 51 tahun di tahun 2017 ini. 
Jumat, 29 September 2017 ALS berusia 51 tahun. Usia yang sangat matang dan dewasa dalam kiprahnya di jasa angkutan darat antarkota antar provinsi. Selama lebih kurang lima tahun terakhir (2011-2016) saya rutin menggunakan armada bus ALS jurusan Padang-Medan atau Bukittinggi-Medan. Selama itu saya menilai ALS berupaya untuk selalu memanjakan para penumpangnya dengan armada yang lapang, baru, dan bersih.
Pertama kali saya ke Medan naik bus ALS sekitar pertengahan 2011. Ketika padat-padatnya penumpang karena arus mudik. Saya menemani istri saya ke Medan guna mendaftarkan diri kuliah pascasarjana di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Kami naik di pul ALS Bukittinggi. Karena armada rutin jurusan Bukittinggi-Medan atau Padang-Medan penuh, oleh agen di Bukittinggi kami dinaikkan dengan bus ALS jurusan Bandung-Medan. 
Kami duduk terpisah. Istri saya di bangku nomor 11, saya di bangku serap. Di sebelah supir. 

Iklan

Posted: 23 Agustus 2017 in Uncategorized

Rasanya waktu berjalan sangat cepat. Ingatan saya kembali ke masa lampau. Masa kecil yang menjadi masa penting perjalanan hidup. Ayah dan Bunda yang mendidik saya (dan adik-adik) dengan penuh kasih sayang. Masa ketika ibunda lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Sehingga bisa mengasuh dan mendidik kami sepenuh waktu. 
Setiap hal mendetail beliau persiapkan. Mengajarkan saya tentang tauhid, aqidah, akhlak, iqra’, membaca Al-Qur’an, dan aspek pendidikan untuk masa depan saya kelak. Ketika azan shubuh berkumandang, ibunda membangunkan saya untuk segera mendirikan sholat. Sejak kecil. Sejak saya belum sekolah. 
Saat saya sudah Taman Kanak-Kanak, ibunda menyiapkan air panas untuk mandi pagi. Sebelum saya bangun di shubuh hari, semuanya sudah siap. Air panas untuk mandi saya, sarapan pagi, pakaian seragam sekolah. Semuanya. Saya tahu ibunda bangun dinihari. Sebelum waktu shubuh masuk. 
Sesekali ketika tersentak dari tidur, saya lihat ibunda sedang sholat. Sholat tahajjud. Lama ia bermunajad, dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Setelah itu baru menyiapkan segala sesuatunya hingga waktu subuh masuk, membangunkan saya dan memandikan saya.
Waktu kecil saya cukup manja dengan Ayah dan Ibunda. Mungkin karena saya anak pertama. 

Ia dengan sabar mendidik empat anak-anaknya. Semuanya laki-laki. Saya anak tertua. Ketika sekolah dasar, saya sudah diajarkan mengurus rumah. Mulai dari menyapu rumah, memasak, mencuci pakaian, dan segala hal yang berkaitan dengan urusan rumah tangga. Bila akhir pekan tiba, itulah waktunya bagi saya untuk mengasah kemampuan memasak. Memasak apa saja. Terserah saya. Ayah, Bunda, dan adik-adik tinggal menilai dan menikmati makanan saya.

Pengajaran dan latihan itu yang membiasakan saya untuk tidak canggung mengurus urusan yang bagi sebagian orang cenderung dikerjakan anak perempuan. Pengajaran yang sangat berguna bagi saya hingga saat ini.

***

“Ibunda sudah berpulang”, begitu suara Ayah dari telpon yang mengabarkan kepada saya setelah sholat shubuh. Saya terdiam. Sedih. Mata saya terkaca-kaca. Tidak percaya ibunda akan meninggalkan kami selama-lamanya. Istri saya sampai menangis mendengar kabar tersebut. Masih sangat sedikit bakti saya kepada ibunda.

Terakhir kali saya bertemu ibunda pada Hari Selasa, 8 Agustus 2017. Rencananya Ayah dan Ibunda akan saya bawa ke Painan, tempat saya bertugas. Rencana tersebut pada akhirnya urung menjadi kenyataan. 

“Ibu masih belum terlalu sehat”, begitu kata Ayah. 

Beberapa waktu terakhir ibunda ada riwayat tekanan darah tinggi dan asam urat. Tetapi beliau tidak pernah mengeluh dengan sakitnya. Sabar melalui semuanya. Kata adik- adik saya, setiap pagi ibunda tetap berjalan pagi di sekitar rumah. Kadang badan beliau fit, kadang tiba-tiba kondisinya lemas. 

Pernah saya utarakan ke ibunda agar dicek di rumah sakit saja. Ibunda menolak. Beliau tidak ingin merepotkan siapapun karena dirawat di rumah sakit. 

“Insya Allah sudah berangsur pulih”, kata ibunda.

Sabtu, 19 Agustus 2017 Ayah mengabarkan akan ke Painan dengan ibunda. Karena saya ada kegiatan seharian waktu itu, saya tidak bisa menjemput ke Padang. Akhirnya, Ayah mengabarkan lagi tidak jadi berangkat. Kondisi ibunda masih lemas. 

Itulah komunikasi terakhir dengan Ayah sebelum saya mendapat kabar ibunda meninggal dunia. 

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun.

Medan yang Terkenang

Posted: 3 Agustus 2017 in Uncategorized


Apa kabar Kota Medan? Bagaimana perkembanganmu saat ini? Mungkin semakin maju dengan pembangunan infrastruktur dan gedung-gedung pencakar langit. Mungkin semakin pengap oleh penduduk yang kian bertambah. Atau para pendatang yang datang untuk berbagai keperluan; mencari nafkah, pendidikan, berwisata. Mungkin semakin sesak oleh kendaraan. Ruas jalan yang sudah menjerit menampung populasi kendaraan yang meningkat pesat. Jadilah ia kemacetan yang panjang, hampir di setiap ruas jalan. Semakin macet bila lampu merah sudah menyala. Macet lagi bila di dekat lampu merah tersebut juga terdapat perumahan penduduk.
Apa kabar Kota Medan? Masih panaskah cuacamu setiap hari? Seperti terik yang tak berkesudahan. Di musim hujanpun udara masih terasa agak panas. Sejuk-sejuk panas. Semakin panas bila satu musim lagi tiba; musim pemilihan kepala daerah atau pemilihan umum. Panas lagi bila jam-jam macet di jalanan datang. Tengoklah. Betapa panasnya abang-abang tukang becak mencari penumpang. Belum lagi panasnya abang-abang supir angkot menginjak gas dan rem mendadak. Jalan raya sudah rasa arena balapan. Mencari penumpang. Untuk mendapat rupiah demi rupiah bagi keluarga.
Apa kabar Kota Medan? Sudah sembilan bulan (per Agustus 2017) saya tidak berkunjung. Seperti ada yang hilang. Tahun 2011 saya pertama kali ke Medan. Kata orang kotanya besar. Ternyata memang besar. Gedung-gedung tinggi tampak menjulang. Dimana-mana ramai. Macetnya luar biasa. Bahasa (termasuk logatnya) juga unik. Pertama kali ke Medan terasa aneh. Semuanya masih asing. Cara bertutur kata orang Medan yang berbeda dari daerah saya, orang Padang. Makanannya pun rasanya aneh. Meski singgah di rumah makan Padang pun, rasanya tetap berbeda dari tempat asalnya. Setelahnya saya harus membiasakan diri. Akhirnya terbiasa.

Apa kabar Kota Medan? Pertama kali naik bus dari Bukittinggi ke Kota Medan. Perjalanan tidak selalu lancar. Pecah ban yang menyebabkan para penumpang harus menunggu hingga lima jam. Longsor di perbatasan Sumbar-Sumut di kala hujan. Bus yang rusak di tengah perjalanan. Sipirok yang waktu itu mencekam di tengah malam musim hujan. Kaca bus yang pecah karena lemparan di jalur Sumbar-Riau-Sumut. Hingga peristiwa paling tragis yang saya rasakan menuju Medan; kecelakaan bus dan terbalik di areal kebun sawit di Minas, Riau. Saya luka-luka. Tidak terlalu parah. Alhamdulillah masih bisa menuju Medan.

Apa kabar Kota Medan? Saya mulai kenal ada koran bernama Harian Analisa. Koran terbitan Medan. Saya coba menuliskan ide, gagasan, dan mengirimkannya ke Harian Analisa. Tak lama kemudian dimuat. Senangnya luar biasa. Itulah untuk pertama kali saya menulis di media cetak luar Sumatera Barat. Harian Analisa memberi saya kesempatan untuk berkarya. Jadilah dalam rentang tahun 2012 hingga 2016 beberapa tulisan saya dimuat di Harian Analisa.

Apa kabar Kota Medan? Mengenangmu seperti mengingat sejarah. Anak pertama saya lahir di Medan. Ia menganggap kampungnya di Medan. “Kampung abang di Medan”, ujarnya suatu ketika. Bila musim mudik tiba menjelang Hari Raya Idul Fitri, abang akan bertanya, “Ayah, kapan kita ke Medan?”
Rasanya ingin sekali kembali ke Kota Medan. Untuk sekedar jalan-jalan. Untuk sekedar menikmati kemacetan yang luar biasa. Untuk mendengar ocehan abang tukang becak atau supir angkot yang teriak-teriak memperebutkan penumpang. Untuk menziarahi perubahan yang tampak. Untuk kembali menuangkan ide dan gagasan di Harian Analisa. Untuk semua kenangan yang pernah ada selama lima tahun berkunjung ke Medan.

***

Kerinduan macam apa pula itu? Mungkin itu yang dinamakan ketidakpuasan sebagai manusia. Orang-orang kota ingin berlibur ke desa. Sementara orang desa ingin berlibur ke kota. Sesekali orang kota ingin mencari ketenangan di tengah hiruk pikuk dan kemacetan kota. Orang desa hendak mencari keramaian untuk membahagiakan diri. Tidak ada yang salah dengan kerinduan itu. Sekedar berganti suasana. Berganti rasa.(*)

Faidhan; Pangeran Kedua

Posted: 15 Mei 2017 in Uncategorized

Sudah hampir lima setengah bulan umur Faidhan per Mei 2017 ini. Alhamdulillah ia aktif bergerak. Sudah mahir membalik-balikkan badan. Kecenderungannya balik ke arah kanan. Lalu mengangkat kaki sedikit demi sedikit. Atau menaikkan tumpuan tangan ketika menelungkup.
Ia sepertinya suka mendengar cerita saya. Setiap pulang kerja dan sampai di rumah, saya akan bercerita padanya tentang pekerjaan, tentang abangnya (Faiz) atau hal-hal yang menarik. Ia tersenyum mendengar cerita saya. Kadang tawanya muncul. 
Di lain waktu ia saya ajak membaca buku bang Faiz. Tentang kisah nabi, atau belajar membaca juz amma. Ia senang bila melihat gambar mobil-mobilan, pohon dan binatang yang biasa ada di buku untuk anak TK. 
Bila sudah bosan ia akan merengek. Digendong adalah penawarnya. Lalu ia saya ajak keluar rumah. Kakinya lincah bergerak sambil digendong. Seperti sudah akan mencoba berlari mengejar kawan-kawan Faiz. Ia suka banyak kawan. Kadang kawan Faiz main ke rumah. Ia pun ingin bermain dengan mereka.

TdS dan Jalan yang Semakin Rusak

Posted: 29 Maret 2017 in opini

Apakah tahun 2017 ini Tour de Singkarak (TdS) akan kembali digelar? Wallahu’alam. Sampai pertengahan Maret 2017 ini belum sekalipun saya lihat pemberitaan di media cetak terbitan Sumatera Barat tentang rencana digelarnya TdS. Atau mungkin saya yang luput membaca berita rencana balap sepeda bergengsi di Sumatera Barat tersebut.

Bagi saya (dan mungkin juga orang lain), TdS memiliki dua dimensi yang berbeda. Tetapi tidak bisa dipisahkan. Seperti dua sisi mata uang. Ada hal positif yang dirasakan dari digelarnya TdS. Ada pula sisi negatifnya.

Beberapa tahun belakangan ini sejumlah ruas jalan rusak parah. Lubang kecil, menengah, dan besar menganga di tepi jalan. Tidak sedikit pula rusaknya di tengah jalan. Ketika sedang asyik berkendara di jalan mulus, tiba-tiba saja dikejutkan oleh lubang berukuran sedang di tengah jalan. Dari jauh tidak terlihat. Setelah dekat baru tampak jelas.

Bila musim hujan datang, lubang-lubang itu akan tergenang air. Menjadi ratalah genangan air itu dengan jalan. Tidak bisa disangka ban kendaraan akan terperosok ke lubang. Disangka jalan mulus saja, ternyata air yang menimbun jalan berlubang. Gara-gara jalan yang rusak parah tersebut, bisa saja mengundang korban nyawa, materi, waktu, hingga jiwa.

“Untung ada TdS”. Apa pula untungnya? Coba kita amati. Beberapa bulan menjelang TdS berlangsung, jalan yang menjadi rute atau perlintasan etape TdS akan diperbaiki. Ruas jalan yang tadinya berlubang ditambal. Bila memungkinkan tambalannya dihaluskan dengan melapisi tambalan pertama dengan lapisan kedua. Halus dari ujung jalan yang satu ke ujung jalan yang lain.

Saya (dan masyarakat) senang dengan jalan yang mulus. Berkendara tidak terlalu melelahkan. Tidak banyak ganti perslening gigi. Jarang menginjak rem. Waktu tempuh ke tujuan menjadi lebih singkat. Jarang pula kemacetan terjadi karena harus ekstra hati-hati menghindari lubang jalan. Tapi satu yang kemungkinan besar terjadi; perilaku berkendara masyarakat kita yang ugal-ugalan. Lihai seperti pembalap yang sering terlihat di tivi.

Tidak semua yang ugal-ugalan. Masih ada pula yang tertib berlalu lintas. Berhati-hati di jalan raya, menggunakan helm atau sabuk pengaman. Itulah masyarakat yang sadar tertib berlalu lintas. Sadar akan keamanan dan keselamatan diri dan keluarga. Kadang sudah tertib pun masih ada juga yang tertabrak dari belakang. Atau tidak sengaja menabrak pengendara lain. Sudah berusaha keras menghindari hal-hal yang membahayakan keselamatan, namun tetap juga terjadi. Itu yang dinamakan takdir.

Bila tak ada TdS? Entahlah. Sejak berakhirnya helat TdS 2016 jalanan kembali rusak. Rusaknya pelan-pelan. Saya sering berkendara dari Painan, Padang, Padang Pariaman, Padang Panjang, dan Batusangkar. Itu rute yang biasanya setiap pekan atau setiap bulan saya lalui. Ketika melewati rute tersebut ada saja kemajuan. Maksudnya, kemajuan dari sejumlah ruas jalan yang semakin rusak parah. Pengalaman saya saat ini, yang paling parah saat ini jalan Padang-Painan.

Entah kapan akan diperbaiki jalan-jalan yang rusak tersebut. Sependek akal saya sebagai warga, hanya dugaan yang bisa dikeluarkan. Mungkin anggaran belum turun, sedang proses pengadaan, atau kendala teknis lainnya. Bila boleh saya mengusulkan kepada pengambil kebijakan, kalau bisa jangan asal ditambal saja jalan yang berlubang itu.

Maksudnya beberapa bulan setelah ditambal, lubang di tempat yang sama kembali menganga. Kualitas aspal dan material memuluskan jalan raya jika memungkinkan yang bisa bertahan bertahun-tahun. Tahan dengan muatan kendaraan hingga puluhan atau ratusan ton. Sehingga tidak setiap tahun jalan yang itu ke itu saja yang dikerjakan.

Rusaknya jalan bisa banyak faktor pendukungnya. Muatan kendaraan yang melebihi batas yang ditentukan, tetapi kurang ada tindakan tegas pihak terkait. Tanah yang labil sehingga jalan yang baru diaspal sudah retak dan rusak.

Ada pula yang menganggap rugi ada TdS. Kenapa rugi? Satu, dua, tiga jam jalanan ditutup hanya untuk melihat para pebalap sepeda melintasi rute tersebut. Tidak sampai dua menit bisa menyaksikan pebalap-pebalap tersebut. Selama rute jalan raya yang akan dilalui berapa terhambatnya kepentingan masyarakat untuk berbagai keperluan?

Dari ota lapau saya bersama kawan-kawan, secara jangka menengah dan panjang perlu dibuat terobosan baru penyelenggaraan TdS. Konsepnya dengan membangun arena balapan yang permanen di setiap kabupaten/kota yang dilalui TdS. Arena balapan itu bisa multifungsi. Bisa juga dimanfaatkan untuk arena balapan lain, seperti balap motor.

Sementara konsep TdS dengan mempromosikan wisata daerah/kabupaten/kota tetap bisa dilakukan secara sejalan. Setelah balapan di suatu kabupaten/kota, peserta bisa menikmati keindahan alam daerah setempat. Ditambah dengan jumpa pers, jumpa fans hingga foto bersama antara pebalap dengan masyarakat. Akan semakin mendekatkan masyarakat luas dengan para pebalap.

Dengan dibangunnya sirkuit balap permanen paling tidak akan ada pemasukan dari tiket dan sponsor. Masyarakat juga bisa berjualan di bagian sirkuit. Ekonomi masyarakat jelas terbantu.

Anggaran membangun sirkuit sudah pasti banyak. Perlu juga menjadi kajian lebih lanjut oleh para stakeholder dan pengambil kebijakan, agar TdS setiap tahun semakin menyuguhkan tontonan berkualitas. Seperti halnya olahraga lain seperti sepakbola.

Soal jalan yang berlubang? Diperbaiki jugalah. Kalau bisa dengan kualitas yang lebih baik. Bisa tidak berlubang dan tidak rusak beberapa tahun.(*)

Inilah untuk pertama kalinya sejak saya wisuda di Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Andalas, saya menginjakkan kaki kembali disana. Sudah hampir tujuh tahun berlalu. Sudah sangat luar biasa perubahannya. Ilmu Administrasi Negara bukan lagi program studi. Ia sudah naik kelas menjadi jurusan. Akreditasinya B. Luar biasa. Hampir 12 tahun sejak program studi tersebut didirikan.

Saya adalah satu dari 40 mahasiswa yang merupakan angkatan pertama di tahun 2005. Program studi Ilmu Administrasi Negara efektif dimulai pada semester II (genap) tahun ajaran 2005/2006. Di semester I (ganjil) saya dan teman-teman belajar di kelas Ilmu Politik, jurusan yang sebelumnya saya pilih pada waktu seleksi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Mungkin pengambil kebijakan di Unand sudah menetapkan rencana strategis pembukaan program studi baru.

Menjelang semester I berakhir itulah FISIP menawarkan untuk pindah ke program studi Ilmu Administrasi Negara bagi mahasiswa angkatan 2005 yang berminat. Diprioritaskan mahasiswa Jurusan Ilmu Politik. Tentu mahasiswa dari Jurusan Sosiologi dan Antropologi tetap bisa bergabung. Sepanjang berminat.

Sebagai sebuah program studi yang baru lahir, banyak ide yang digagas. Mulai dari pembentukan himpunan mahasiswa sendiri (terpisah dari Jurusan Ilmu Politik), ruang reading room, dan konsep baru Kemah Bhakti Mahasiswa (KBM). KBM tanpa perpeloncoan. Gagasan KBM tersendiri sempat ditentang oleh sejumlah senior di Jurusan Ilmu Politik. Pandangan mereka (para senior), AN masih bagian dari Jurusan Ilmu Politik.

Termasuk juga sedikit konflik karena gagasan pembentukan himpunan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (HM-AN) Unand. Pada akhirnya HM-AN bisa dibentuk dan berdiri di masa awal seiring berdirinya program studi AN. Lambang HM-AN yang terdiri dari 40 kotak menggambarkan jumlah mahasiswa angkatan pertama di AN.

Itu sedikit dinamika yang berkembang di awal berdirinya program studi Ilmu Administrasi Negara dari sisi saya sebagai salah seorang mahasiswanya. Setelah 12 tahun berlalu, program studi sudah beranjak menjadi sebuah jurusan. Gedung yang cukup representatif di bagian belakang gedung FISIP Unand yang lama. Ruang baca atau reading room yang sudah khusus, ruangan dosen, ruang sidang untuk rapat internal dan ujian skripsi yang sudah nyaman.

Mahasiswa baru di Jurusan Administrasi Negara Unand harus bersyukur dengan segala fasilitas yang sudah lebih baik. Musholla yang representatif untuk menjalankan ibadah maupun tempat berdiskusi juga sudah selesai. Tinggal bagaimana civitas akademika di AN memanfaatkan fasilitas tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan semangat belajar yang lebih baik dari kami yang “lahir” di angkatan-angkatan awal.

***

“Kami mau undang lutfi untuk berkenan hadir dalam acara penilaian akreditasi oleh jurusan. Acaranya hari Selasa bos, jam 8. Mohon berkenan datang”. Begitu kabar dari dosen saya Uni Rozidateno.

Menjelang magrib, Bang Malse Yulivestra menelpon. Mengabarkan hal yang sama. Beliau berharap user atau pengguna di tempat saya bekerja juga bisa datang. Maksudnya pimpinan di kantor saya.

“Tolong discan kan surat untuk Ketua ya bang. Agar undangannya resmi”, kata saya. Bang Malse menyanggupi. Senin pagi dikirimkannya.

Selasa (7/3) pagi saya, Ketua dan Da Eri (sopir kantor) menuju Padang. Beberapa menit sebelum jam 10.00 WIB kami sampai di kampus. Terkesima saya menyaksikan perubahan di kampus. Saya menuju Jurusan Ilmu Administrasi Negara. Sepi. Ruangan dosen juga kosong. Hingga di suatu ruangan yang terletak paling sudut saya lihat rapat sedang berlangsung. Mungkin saya terlambat. Saya kontak Bang Malse, nomornya tidak aktif.

Saya dan Ketua menunggu saja sesaat di lobby. Tepat di depan pintu reading room. Saya jadi ingat reading room di masa-masa awal. Meminjam satu ruangan dosen di lantai 2 gedung FISIP yang lama.

Ternyata di ruang rapat sedang berlangsung rapat internal antara dosen dengan tim Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN PT), Prof.Dr.Soesilo Zauhar, MS. Seperti ujian saja. Rapat tersebut untuk penilaian internal yang bersumber dari dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara.

Sekitar satu jam menunggu, saya, ketua dan sejumlah alumni serta mahasiswa AN diarahkan menuju ke ruang sidang dekanat lantai 2.Di dalam ruangan sudah menunggu tim asessor BAN-PT, Dr.Bambang Tri Harsanto, M.Si. Beliau memperkenalkan diri di hadapan forum. Termasuk maksud dan tujuan mengundang alumni untuk hadir dalam penilaian akreditasi jurusan.

“Kami ingin membandingan dengan penilaian eksternal dari alumni terkait mata kuliah yang dipelajari di AN dan relevansinya secara aplikatif di dunia kerja. Di tempat kerja saudara”, kata beliau menerangkan.

“Program studi dan fakultas ada rencana strategis, apakah alumni dilibatkan dalam proses tersebut?” Beliau mulai bertanya. Kami menjawab tidak dilibatkan.

Pertanyaan berlanjut ke hal yang lebih spesifik. Relevansi mata kuliah yang dipelajari dengan kebutuhan di tempat alumni bekerja. Kawan saya Handre (saat ini Plt.Kabag Humas Pemkab.Padang Pariaman) menjelaskan bahwa apa yang dipelajari saat kuliah dulu sangat membantu sekali secara aplikatif di dunia birokrasi.

Bagi saya juga demikian. Di semester 5 saya mengambil konsentrasi Kebijakan Publik. Ternyata hal tersebut juga diperlukan di tempat saya bekerja. Bahwa dalam pengambilan kebijakan tersebut harus melalui tahapan formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, evaluasi kebijakan. Sebuah keputusan yang dikeluarkan oleh lembaga/institusi/organisasi pemerintah juga mengedopsi hal yang sama. Kadangkala disertai dengan semacam perdebatan di lingkungan internal untuk menghasilkan keputusan yang tepat.

Dalam konteks manajemen publik, pelayanan di bidang publik juga menjadi prioritas. Bagaimana memangkas patologi atau penyakit birokrasi sehingga masyarakat menilai birokrasi merupakan hal terpenting dalam melayani masyarakat. Itu juga saya coba terapkan di tempat saya bekerja. Apalagi saya berada di pos Pusat Pelayanan Informasi dan Dokumentasi (PPID). Sehingga prinsip kemudahan pelayanan atau pelayanan prima seperti yang dipelajari di waktu kuliah sangat membantu dalam memberikan pelayanan informasi kepada masyarakat.

Kami mengusulkan agar ditambah satu mata kuliah praktek, misalnya magang di instansi pemerintah atau swasta. Namun konsepnya berbeda dengan magang anak-anak SMK yang cenderung menjadi “tukang fotocopy” surat di instansi. Konsep magang mahasiswa AN harus dipetakan untuk memperdalam keilmuan sesuai konsentrasi yang diambilnya.

Misalnya, mahasiswa AN dengan konsentrasi Kebijakan Publik. Tugasnya selama magang adalah melihat dan mengamati prose pengambilan kebijakan di instansi tersebut. Caranya dengan melibatkan mahasiswa magang dalam setiap bentuk tahapan pengambilan keputusan, seperti melalui forum-forum rapat internal maupun eksternal. Namun sifat mahasiswa magang tersebut adalah pendengar yang pasif, atau hanya menjadi pengamat, mencatat, dan melaporkan hasil pengamatan dan catatannya tersebut kepada pimpinan instansi dan menjadi bahan penilaian di kampus.

Dengan demikian, Kuliah Kerja Nyata (KKN) tidak dihilangkan sama sekali. KKN berguna untuk sosialisasi kemasyarakatan mahasiswa, sementara magang atau kuliah praktek berguna untuk memperdalam konsep dan pemahaman keilmuan terkait konsentrasi yang diambil oleh mahasiswa di semester akhir.

Sekitar satu jam kami dan tim asessor BAN-PT berdiskusi. Rasanya masih kurang waktu berdiskusi untuk kemajuan jurusan. Masih terlalu minim kontribusi saya untuk jurusan yang juga memiliki nilai historis tersendiri.

Semoga Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Andalas bisa meraih akreditasi A untuk Kedjajaan Bangsa.(*)

Tahun lalu (2016) saya akhirnya mengundurkan diri dari seleksi calon penerima beasiswa konsentrasi Tata Kelola Pemilu yang diadakan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tahapan yang saya ikuti meliputi pendaftaran secara online. Nama saya tertera di keputusan KPU terkait hasil seleksi administrasi. Ada dua tahapan lagi sebenarnya. Pertama tahap pendaftaran di universitas yang dipilih. Kedua tahap seleksi wawancara yang dilaksanakan berdasarkan regional.

Tahap pertama tidak jadi saya lakukan. Saya menafsirkan bahwa setelah ada keputusan hasil seleksi wawancara, baru calon yang terpilih sebagai penerima beasiswa untuk mendaftar di universitas pilihan. Tafsiran saya ternyata salah. Antara tahap pertama dan kedua berjalan hampir beriringan. Artinya, bila di universitas yang dipilih sudah dibuka pendaftaran, maka harus mendaftar. Selanjutnya baru wawancara dilakukan.

Waktu itu saya juga harus memutuskan antara pertimbangan lain. Istri saya yang hampir selesai masa studi pasca sarjananya di Fakultas Psikologi di Universitas Sumatera Utara (USU). Belum ujian tesis dan seminar hasil. Jadwalnya ketika itu belum keluar. Kontrakan rumah yang mepet juga untuk segera diputuskan; diperpanjang atau tidak. Sementara seleksi wawancara beasiswa sudah di depan mata.

Mudik ke Takengon, Kabupaten Aceh Tengah sudah diagendakan. Disana keluarga besar istri saya berasal. Sejak menikah, belum sekalipun saya kesana. Sementara anak saya sudah dua kali di bawa neneknya kesana. Saya ingin sekali kesana. Cerita mertua saya, daerahnya dingin. Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter dari permukaan laut. Untuk mandi saja, airnya seumpama dingin air di ruang pembekuan kulkas.

Disanalah kopi Aceh atau kopi khas Gayo berasal. Dari yang kualitas robusta hingga arabika tersedia disana. Dari harga per gelasnya hanya ribuan rupiah hingga puluh ribuan. Kopi disana sangat terkenal di Indonesia, bahkan ke luar negeri.

Menjelang mendaftar seleksi beasiswa, saya semangati senior saya di KPU Padang Panjang, Kak Ade Alifya dan Bang Weriza, ketika suatu hari singgah disana. Satu hari menjelang penutupan pendaftaran mereka masih mengontak saya. Memastikan untuk mendaftar di Universitas Andalas. Dengan segala pertimbangan, saya putuskan untuk tidak jadi mendaftar.

“Alasannya?”, tanya mereka.

“Pertimbangan yang nanti akan saya tulis di blog”.

Setelah wawancara di KPU Provinsi Sumatera Barat dilakukan oleh tim seleksi, saya masih nimbrung di grup whatsaaps beasiswa tata kelola pemilu. Hingga seorang senior memberi tahu saya untuk left secara sukarela. It’s ok. Tidak hak saya juga untuk terus bergabung disana. Toh saya tidak ikut wawancara. Sudah dipastikan tidak akan memperoleh beasiswa tata kelola pemilu tahun 2016.

Suatu ketika, telpon di hp saya berdering. Saya lihat, dari nomor tak dikenal. Dari kodenya sepertinya nomor luar Sumatera. Saya jawab. Ternyata Mas Wilis Budi. Beliau bekerja di KPU RI, di bagian Sumber Daya Manusia. Beliau menawarkan kepada saya untuk ikut wawancara susulan. Melalui video call. Saya sampaikan pertimbangan saya tadi hingga memutuskan untuk mengundurkan diri di seleksi tahun 2016.

“Insya Allah tahun depan (2017) saya coba Mas”, kata saya.

***

Tanggal 1 Maret 2017 saya lihat status facebook Mas Wilis Budi. Ada Surat Sekretaris Jenderal KPU RI Nomor 238/SJ/II/2017 tanggal 28 Februari 2017 tentang Penyesuaian Besaran Tunjangan Kinerja Bagi PNS KPU yang melaksanakan Tugas Belajar. Isinya tentang Keputusan Sekretaris Jenderal KPU RI Nomor 91/Kpts/Setjen/TAHUN 2017 tentang perubahan atas Keputusan Sekretaris Jenderal KPU RI Nomor 53/Kpts/ Setjen/TAHUN 2016 tentang petunjuk teknis pelaksanaan pemberian tunjangan kinerja pegawai di lingkungan Sekretariat Jenderal Komisi Pemilihan Umum. Tunjangan kinerjanya naik dari diberikan sebesar 50 persen menjadi 80 persen.

Ini tentu menjadi angin segar bagi pegawai sekretariat untuk mempertimbangkan kembali mengambil beasiswa tata kelola pemilu tahun 2017.

Bagaimana dengan saya? Apakah tahun ini saya akan mengikuti seleksi calon penerima beasiswa tersebut? Saya ingin sekali ikut. Tentu saya harus komunikasikan dan pertimbangkan dulu dengan istri saya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama hal ini akan kami putuskan. Dengan segala pertimbangannya. Dengan segala semangatnya. Dengan segala kemashlahatannya.(*)